KOLOM LAIN

Catatan Zulfikar Akbar

Kasta Ikan Asin

Posted by Zulfikar Akbar on 11 Juni 2010

Dulu, ikan asin disebut-sebut sebagai jenis makanan orang-orang miskin. Hari ini justru ikan asin sulit terbeli oleh orang-orang miskin.

***

Anggap saja ini catatan tidak penting. Apalagi karena ini memang rekaman masa kecil saya pribadi. Saya cuma ingin merenungi ulang saja ketika dulu saya masih sebagai seorang anak yang bermulut bau ikan asin. Setiap hari ditugaskan ke peukan los Jeuram, di gampoeng saya, Jeuram, dengan daftar belanja nyaris tak pernah sepi dengan ikan asin. Saat itu peukan itu belum berdiri sampai 2 tingkat seperti sekarang.
Ingatan pada ikan asin itu berasosiasi pada banyak hal. Ada nilai hidup, perubahan dan berbagai keunikan perjalanan dari hidup itu sendiri.

Pertama, tentang peukan los yang dulu sering saya kunjungi untuk belanja ikan asin tadi. Ketika itu tempat tersebut masih lumayan bisa menjadi tempat siapa saja untuk berjualan. Paling, per hari mereka yang menggelar lapak dagangannya dari jenis sayur-mayur sampai ikan asin, kareng (teri), udeueng sabee (udang halus kering, sabu) meski di tempat dengan wadah hanya berupa bahan sederhana saja. Tetapi, tidak peduli bermodal paling kecil sekalipun sampai cuma bisa menjual labu
saja. Namun mereka bisa berjejalan di sana, sama-sama mencari rejeki. Saya menyaksikan itu sendiri lebih dua puluh tahun yang sudah berlalu.

Sekarang, dalam rekaman ingatan 3 tahun terakhir. Pasar megah yang berdiri di kota kecil itu hanya bisa menjadi tempat mangkal pedagang yang memiliki modal lebih kuat. Dengan kisaran kontrak dalam angka jutaan. Pelan, yang bermodal kecil bergeser, entah kemana sudah, wallahu a’lam. Jika memaksa untuk tetap bisa berjualan di luar itu, otomatis akan bersentuhan langsung dengan jalan lintas kabupaten (Nagan Raya).
Dan, pilihan itu jelas beresiko. Sebab, Satpol PP walaupun cenderung memiliki taraf hidup tidak terlalu
jauh dari mereka yang bermodal kecil ini. Namun, ‘polisi penggerebek’ itu bisa seketika datang dengan wajah sangar untuk mengusir. Tanpa berani berharap, mereka akan berkesempatan untuk berpikir kalau anak-anak pedagang kecil ini butuh makan, pakaian dan biaya untuk pendidikan.

Entahlah, menulis ini saja hati saya sudah merasa sedemikian nyeri.

Kedua, ikan asin itu memang menjadi menu yang paling sering saya lahap bersamaoen paku (pakis). Oen paku itu menjadi makanan yang memang lazim dikawinkan dengan ikan asin. Sedikit kekurangan oen paku, walaupun ini jenis sayur (mungkin hanya di Aceh), namun mengkonsumsi dalam jumlah sedikit berlebihan saja berisiko membuat perut kembung. Saya sendiri sering harus meringis meskipun tidak banyak memakannya. Sebab, bagi yang memiliki masalah dengan perut, memakan oen paku sedikit saja berpotensi membuat perut bisa menjadi rebana –dari bunyi kalau dipukuli–, selain bisa menjadi perangsang untuk penyakit perut itu kambuh, maag paling mungkin.

Sebagai seorang anak yang memang belum kenal jenis analisis apapun, apalagi kenal kontemplasi dan semacamnya. Terus menerus melahap ikan asin, diketahui orang-orang sekitar atawa tetangga saja berpotensi bikin ill-feel (Aceh: Hana mangat sagai). Karena kecenderungan sebagian masyarakat yang
kadangkala bisa melihat dengan sorot mata kasihan.

Kesan yang ditangkap, mereka yang hidup dengan makan ikan asin adalah jenis manusia yang paling layak dikasihani. Dan sorot mata demikian tentu saja tidak mengenakkan. Lebih tidak enak dari ikan asin busuk sekalipun. Tetapi, tidak jauh dari waktu itu, saya pernah merasa layak berbusung dada–dulu–, ketika beberapa kali bisa hadir di depan saat acara pembagian rapor di sekolah dan nama saya dipanggil sebagai salah satu juara kelas.

Catatan ikan asin membawa saya pada kesimpulan; semua yang diluar jiwa tidak memberi pengaruh apa-apa. Mengstabilkan kondisi jiwa, sedia menerima kodrat yang sudah tertulis acapkali menjadi energi yang membuat Tuhan dengan senyum-Nya berikan anugerah yang bisa jadi tidak mudah dicerna logika.
Satu lagi, harga ikan asin hari ini melonjak jauh lebih mahal, menurut kabar yang sempat saya dengar.

Posted in GAMPOENG, INSPIRASIONAL | Tagged: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Pengakuan Ariel

Posted by Zulfikar Akbar on 9 Juni 2010

painDia terlihat di Bandung, hari ini. Wajahnya terlihat letih. Ada geram yang begitu membuncah terlihat di wajahnya. Giginya terlihat gemeretak menatap hujan yang jatuh satu-satu, masih berupa gerimis.

“Kenapa bisa terjadi seperti itu?” Tanyaku pelan, karena memang sudah lama kami saling kenal.

“Entahlah. Sulit aku jelaskan…” Desahnya, pelan sekali.

“Apakah…” Tanyaku terhenti oleh kilat yang menyambar.

Dhuar!

“Apakah, ada orang yang inginkan kejatuhanmu, bro?” Tanyaku hati-hati karena percaya, dalam kondisi frustasi siapa saja bisa sangat sensitif.

“Atau…ada perempuan lain yang sakit hati padamu, dan…dan dia mencari berbagai cara untuk menjatuhkan engkau…”

“Tidak juga…”

“Terus…?” Kejarku.

“Hufffffffff!” Ia menarik nafas panjang.

“Iya, aku merasa ini jebakan. Masak, cuma satu itik saja tergilas tanpa sengaja seperti ini minta dibayar dengan sepeda Astrea Grand ‘96? Padahal ini satu-satunya warisan Bapakku yang masih tersisa. Dan, kamu pasti lihat kalo tadi aku jatuh toh? Dan jatuh itu tidak ada kaitan dengan perempuan. Hujan-hujan, nabrak itik, mata terhalang derasnya hujan makanya jatuh.”

Ariel, kenalan baruku ini begitu sayangnya pada Astrea Grand ‘96 miliknya itu, sampai wajahnya bisa terlihat begitu frustasi.

“Sudahlah, kita coba bicara baik-baik nantinya dengan pemilik itik itu. Yakin deh, dia juga manusia. Dia pasti punya hati. Jika tidak punya lagi, tidak apa-apa, kita bisa ke warteg untuk traktir dia makan hati dan ampela. Yang penting enjoy toh? Oks brader?”

“Yoi!”

Sepertinya Ariel sudah mulai semangat walaupun ia bermasalah dengan itik yang tadi tidak sengaja digilasnya.

———-

Masalah Ariel terhenti sampai di sana? Tidak, masih hidup Bo, kapan masalah selesai. Selesai juga ntar yang lain datang lagi :)

Posted in LEPAS, Media | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »

Cerita Panas

Posted by Zulfikar Akbar on 8 Juni 2010

Berbicara ketertarikan manusia memang sangat unik. Dari yang dingin sampai yang panas. Dari soal es krim sampai kemungkinan lelehan salju yang tenggelamkan dunia. Dari jajanan pisang goreng yang masih panas, obrolan dengan senyum yang hangat sampai ke urusan perselingkuhan yang bikin hati juga panas.

Wah! Mengangkat dingin dengan panas saja bisa dikaitkan dengan begitu banyak masalah. Seorang suami bisa merutuk terus menerus dalam hati jika didapatinya istrinya makin hari makin dingin. Seorang istri bisa mengomel sehari suntuk jika periuk terus dingin sedang suami adem ayem (baca: dingin), dalam arti suaminya tidak peduli soal periuk nasi.

Dan dalam 3 hari ini lain lagi. Terdapat beberapa topik yang paling menarik perhatian masyarakat dari multi level. Perhatian banyak tersedot pada cerita-cerita panas. Tentang Ariel, Luna Maya dan Cut Tary yang bikin banyak orang panas dingin sampai soal Yahudi yang seringkali bikin Muslim Indonesia kepanasan, gerah. Ada komposisi gerah dan gairah dan itu memberi dampak basah. Iya, basah.

Saya ingat beberapa rekan yang berdiskusi tentang Yahudi, mereka juga basah. Setidaknya dengan pandangan banyak lawan bicara yang terkadang memancing emosi. Keningnya basah karena berpikir terus sampai berkeringat. Dari sekian topik panas dalam 3 hari ini, saya sendiri lebih tertarik pada persoalan yang berhubungan dengan Yahudi dan Gaza atawa juga Palestina.

Ariel, Luna, Cut Tary

Terkait soal Ariel, Luna dan Cut Tary. Saya tidak terlalu menaruh minat karena memang tidak ada hal yang menarik untuk dibincangkan. Kecuali, rasa harap-harap cemas jika saja banyak remaja yang mengidolakan mereka lalu lantas (menyontek lalu lintas) meniru semua yang dipampangin di video para ’seleb’ tersebut (tidak bermaksud menuduh).

Terbayang jika saja mereka adalah anak-anak yang lugu,”Apa juga dibilang kalau maen dokter-dokteran

itu dosa, mereka aja bisa. Aku juga pengen dong. Mosok yang enak-enak terus saja dilarang…” Jika seperti ini alamat parah dan berdarah-darah. Wah, terasa saya lebih-lebihkan ya? Memang, karena berdarah-darah yang saya maksud, adalah darah aborsi jika efek dari video yang konon sudah beredar luas ditiru remaja dan seks bebas terjadi dimana-mana. Tidak mengerti langkah proteksi dari kehamilan, lalu panik dan meminta di remaja perempuan aborsi. Duh, ngeri. Tentunya, kedua orangtua remaja itu juga akan panas.

Sepertinya memang hari-hari terakhir ini semakin banyak cerita-cerita panas. Dan, masyarakat pun selalu suka yang panas-panas. Soal panas memang masuk akal jika paling diminati. Bahkan seorang Istri bisa saja diberikan wajah masam oleh suaminya jika tidak panas. Eh, maksud saya nasi yang dihidangkan tidak panas, sedang sang suami cape-cape pulang kerja. Walah, kok saya lupa kalau jaman sekarang banyak istri kerja juga. Terus siapa yang bikin panas?

Wallaahu a’lam

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 28 Comments »

Aku Jatuh Cinta pada Perempuan Yahudi

Posted by Zulfikar Akbar on 8 Juni 2010

7Perempuan itu begitu indah, otak dan hatinya begitu bening. Pemikiran dia sepertinya memang percikan air dari mata air yang bersih. Dia perempuan Yahudi, dan aku mencintainya.

***

Namanya Margaret Marcus, nama yang cukup indah terdengar di telingaku. Tidak terlalu kupentingkan kecantikannya, walaupun memang ia sangat cantik. Orang-orang sekampungnya memanggil dengan Maggy. Ia seorang perempuan yang tidak suka pesta, pergaulan bebas, rokok atau alkohol. Meskipun New York tempat ia berasal merupakan sebuah tempat yang lumayan longgar untuknya melakukan apa saja yang disenangi oleh jiwa mudanya–Westchester.

Berawal dari ketika berusia belasan tahun. Ia sebelumnya memang seorang perempuan yang bandel. Kebandelan yang disebabkan oleh kekecewaannya pada berbagai potret ironi yang ia saksikan. Betapa tidak, banyak sekali kejadian yang menunjukkan bahwa orang Yahudi tidak peduli bahkan pada agama sendiri. Anak-anak, lebih tertarik membaca komik-komik lucu daripada kitab suci.

Ia pernah memilih sebagai perempuan agnostik, atheistik dan berbagai keyakinan lainnya. Setelah

sekian lama, ia memilih tidak larut dalam pergaulan dan hanya berkutat dengan buku-buku filsafat, psikologi dan agama. Beberapa buku cukup memberi pengaruh padanya; The Lance of Kanana karya Harry W. French, buku yang menceritakan seorang anak Badui. Boy of The Desert karangan Eunice Tietjiena yang menceritakan seorang anak yang bernama Abdul Aziz. Camel Bells: A Boy from Baghdad yang bertutur tentang seorang anak Irak yang diangkat oleh keluarga Badui.

Pada usia 20 tahun, ia menuntut ilmu di Universitas New York. Di sini, terdapat salah satu mata kuliah yang bernama “Judaisme in Islam” (Ajaran Yahudi dalam Islam). Rabbi Abraham Issac Katsh, Ketua Jurusan Studi Hebrew merasa tidak perlu berlelah untuk meyakinkan mahasiswanya bahwa agama Islam adalah agama yang mencontek Yahudi.

Rabbi Profesor tersebut, sebenarnya ingin membuktikan kepada mahasiswa kelebihan Yahudi atas Islam, Margaret malah menjadi yakin akan hal yang sebaliknya. Justru agama Islam dan Yahudi bersumber dari Tuhan yang sama. Oleh sebab agama Islam lahir belakangan, maka logikanya wajar jika Islam menjadi revisi atas ajaran-ajaran Yahudi. Orang Yahudilah yang harus mengikuti agama Islam, demikian menurut Margaret (mengutip: di sini).

Dalam pandangan Margaret, seruan Zionisme untuk orang Yahudi ramai-ramai ke Palestina tidak ada dasar dalam Talmud, kitab suci mereka. Ia juga berpandangan bahwa Yahudi adalah masyarakat yang sangat eksklusif, jika tidak demikian maka tidak akan pernah ada pembantaian sepanjang sejarah terhadap masyarakat tersebut. Di matanya zionisme tak lebih dari kombinasi antara rasisme, Tribalisme Yahudi, dan nasionalisme sekuler modern.

Selanjutnya, Melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh PBB dalam mengatasi hubungan Arab-Yahudi di Palestin hati Margaret menjadi tambah tidak yakin dengan agama Yahudi. Ia tidak betah dan tidak kuat lagi mengaku sebagai orang Yahudi. Ia melihat kecurangan-kecurangan PBB yang disogok gerakan Zionisme melalui Lobby Yahudi Amerika. Ia menjadi sangat malu sebagai orang Yahudi. Semakin Margaret mengikuti kuliah Profesor Katsh, semakin Margaret tidak meyakini agama. Semakin Margaret merasa agama Yahudi banyak cacatnya. Apalagi sudah beberapa bulan Margaret membaca Al Qur-an dan Hadits. Margaret membandingkan AL Qur-an dengan Talmud. Ia merasa AL Qur-an lebih sempurna, lebih logis, dan lebih argumentatif daripada Talmud. Dan pada pagi hari di bulan November 1954, Margaret masuk Islam (Sumber; ibid).

Tekanan dari keluarganya atas keislamannya, dari berbagai sumber disebutkan, sempat membuatnya tidak tahan sampai ia harus mendekam di rumah sakit jiwa. Tetapi justru di sana ia semakin bertekad untuk terus bersikukuh dalam keislamannya.

Keteguhannya demikian membuat keluarganya tidak tega. Sampai mereka kemudian lebih longgar terhadap Margaret dan pilihannya untuk menjadi Muslimah.

Abul a’la al Maududi, seorang ulama besar dari Pakistan menjadi figur yang begitu berperan menjelaskan tentang seperti apakah Islam sehingga kian memperteguh keimanan perempuan itu. Ia seorang perempuan Yahudi yang kemudian begitu gigih memperjuangkan Islam.

Ia banyak berkontribusi menjelaskan Islam kepada dunia lewat berbagai karyanya. (Sumber: Correspondence between Maulana Maudoodi and Maryam Jameelah). Perempuan ini dengan berbagai kontribusinya, telah membuatku jatuh cinta.

Posted in INSPIRASIONAL | Tagged: , , , , , , , , | 2 Comments »

2 Arjuna Mencari Celana (Eps. 1)

Posted by Zulfikar Akbar on 4 Juni 2010

srondolIni cerita bukan dari jaman purba, tidak ada kaitan dengan Cinderella atau Samson dengan Delila. Tetapi hanya cerita tentang 3 anak manusia yang ingin menyatu dengan cinta, bermimpi bisa menjalani hidup yang lebih indah dari cerita Siti Nurbaya.

***

Adalah Siumoy, gadis anggun, cantik, ayu dan berparas yang bisa dipastikan tidak kalah dengan Cinderella. Memiliki senyum yang juga tidak kalah dengan Nyi Loro Kidul. Tetapi terkadang memaksa diri untuk ikhlas saat jerawat di wajah berubah bentuk laiknya bisul.

Tidak perlu disayangkan, walaupun ia memiliki banyak pemuja, namun ia memiliki kebiasaan yang harusnya hanya dilakukan oleh perempuan-perempuan tua. Yap, Siumoy suka bersirih. Mungkin karena pengaruh ibunya yang asli Sumatra, sedangkan bapaknya suka mengaku diri sebagai penakluk seribu kota disamping kepiawaiannya menaklukkan banyak dara semasih muda di satu ketika.

Ini bukan cerita telenovela walaupun ada sebagian catatan yang berisi luka. Karena Siumoy cukup tahu, jika terluka ia bisa membeli plester dengan uang beberapa rupiah saja. Ia tidak suka berduka, karena katanya duka mirip dengan dukun yang hanya membuat diri larut dengan melamun.

Syahdan, ia kebetulan bertetangga dengan Srondol dan Suheng. Suheng lelaki yang sudah usia kepala empat tetapi masih tertarik dengan daun muda, karena alasan, daun kering tidak bisa ditelan. Tetapi tentu bukan karena itu saja, namun juga memang Suheng masih perjaka meski wajahnya lebih mirip duda. Ia tinggal di sisi kanan rumah Siumoy.

Satu lagi, Srondol menjadi saingan berat Suheng. Sebab lelaki 39 tahun, 1 tahun lebih muda darinya itu selalu saja mencoba menarik perhatian Siumoy dengan berbagai cara. Terkadang, Srondol bernyanyi dengan suara keras-keras sekadar untuk perdengarkan pada Siumoy bahwa suaranya mirip Rhoma Irama walaupun itu hanya diakui oleh dirinya sendiri.

“Stress…kerap melanda manusia. Tak peduli miskin ataupun kaya. Stress obatnya ada di tempat orang jualan.” Tidak seperti kaset yang menyanyikan lagu sampai tuntas, Srondol kerap dengan zalimnya merubah lagu dengan cepat walaupun yang pertama dinyanyikan belumlah selesai.

“Judi…aaaaaaa, kerap melanda manusia aaaaaaaaa…” Campur aduk sudah lagu penyanyi kesohor Indonesia itu di tangan eh mulut Srondol. Dan sesaat kemudian lagu itu bisa berubah menjadi,“Basah, basah seluruh tubuhku…akulah pangeran dangdut, yang akan mengguncang duniaaaaaaaa…”

Meskipun pinggulnya kasar, tetapi tetap digeol-geol mencoba meniru Inul Daratista yang merupakan pemilik lagu-lagu yang juga membuat ia getol. Tidak tanggung-tanggung ia bergoyang seperti itu  hanya dengan mengenakan handuk saja dan dilakukan di depan rumahnya. Pilihan yang lagi-lagi karena berharap, Siumoy si anak tetangga sang Cinderellanya berkesempatan memberikan senyum meski sekilas saja. Srondol tinggal di sisi kiri rumah Siumoy. Praktis, rumah Siumoy diapit oleh 2 perjaka yang sama-sama mirip duda itu.

Suheng, lelaki yang paling senang menyebut dirinya sebagai pujangga itu seringkali murka melebihi murka Rahwana kalau sudah mendengar Srondol berdangdut ria di kakilima. Pernah sekali waktu, karena saking geramnya Suheng menjalankan jurus bijaksana. Bijaksana karena ia bisa manfaatkan senjata-senjata alami saja. Maksudnya, di rumah Suheng seringkali dizalimi kucing dengan kotoran yang tumpah ruah di berbagai tempat.

Nah, kebetulan, pagi itu kucing yang tak disayangnya itu menumpahkan kotoran di tumpukan pakaian yang memang hanya diletakkan di kardus bekas mie instant. Ia kesal bukan main, mana ia juga mencuci sendiri pakaiannya. Sedang ia geram disebabkan tidak menemukan kucing yang sudah tumpahkan hajat dasar di pakaiannya, terdengar lagi Srondol berdangdut ria dengan lagu gado-gadonya.

“Dulu aku suka padamu, dulu aku memang suka. Aku gila padamu, dulu aku memang gila. Sebelum aku tahu kau dapat merusak hidupku…mira santika, mira santika…mira…mere mehbooba, mere mehbooba, kucu kucu hotahe he he he he po ambe-ambe, belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam belum bisa minum susu.” Dengan semangat Srondol bernyanyi sambil melamunkan nasibnya sebagai perjaka yang belum laku-laku.

Pengorbanan mutlak dibutuhkan untuk menghancurkan saingan. Demikian pikir Suheng. Ia korbankan tangannya. Pengorbanan untuk melakukan dengan tangan terbuka, memegang tahi kucing yang berlepotan di pakaiannya dalam kardus bekas mie instant itu. Diambil dengan mudah, diusap ke kedua belah telapak tangannya seperti ia mengusap minyak rambut kemiri yang sering dipakai meminyaki rambutnya yang memang mirip Sammo Hung, bintang felem Hongkong.

Srondol membelakangi posisi Suheng. Otomatis membuat rencana Suheng terasa bakal mulus. Apalagi, berdasar kajian strategi penaklukkan lawan yang acap ia pelajari dari felem kartun Tom ‘n Jerry, kelihaian membaca posisi lawan seringkali menjadi penyebab paling penting untuk bisa membuat musuh lumpuh.

Di kedua telapak tangan Suheng sudah penuh agak kental dengan tahi kucing yang memang lembab. Dengan mengendap-endap. Melompati pagar rumah Siumoy yang setinggi lututnya.

Yap!

Sekarang ia sudah berada di belakang Srondol. Teringat ia dengan teori yang pernah ia baca dari salah satu komik Jepang, maklum dalam usia seperti itu Suheng masih suka komik, bahwa: “Jangan lakukan apa-apa ketika engkau berada di depan lawanmu, tunggu sampai tenang dan keluarkan jurus-jurusmu.” Suheng membayangkan dirinya sebagai Sun Go Ku di komik Dragon Ball.

Memelankan nafas. Membiarkan Srondol asyik dengan dangdut kemasannya sendiri yang sudah diaduk secara zalim itu. Mengangkat pelan-pelan kedua tangan yang sudah bersenjata kotoran kucing yang bisa dipastikan, boleh disumpah, benar-benar berbau menyengat itu. Persis saat Srondol sudah dengan tanpa jeda sedang menyanyikan lagu Duda,“Tiada tempat, untuk mencurahkan…rasa rinduku, oh serta kasih sayang…barulah satu bulan, diriku ditinggalkan. Aku sudah tak tahan…dicekam kesepian. Ya Allah, ya Tuhan, jauhi godaan setannnn.”

———-

Apa yang selanjutnya terjadi, berhasilkah Suheng menjalankan jurus Dragon Ball-nya itu? Ataukah Srondol akan lebih dulu mengetahuinya? Mereka akan berkelahi? Tunggu lanjutannya.

BERSAMBUNG…menyambung menjadi satu, itulah Indonesia (Intro: Dari Sabang Sampai Merauke).

4.155029 96.518689

Posted in Srondol dan Suheng | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Ureueng Aceh Merekam Hasan Tiro

Posted by Zulfikar Akbar on 4 Juni 2010

waliDi sebuah gunung pedalaman Aceh, sebuah bendera dinaikkan. Deklarasi dilafalkan, pernyataan terbentuknya Aceh sebagai sebuah negara tercatat sebagai bagian sejarah yang kemudian menjadi darah. Lantas, terjalin damai yang dicapai dengan jalan yang tidak mudah.

Sejarah itu mencatat seorang lelaki yang menjadi bagian think tank di organisasi DI/TII di bawah Daud Beureueh, Muhammad Hasan di Tiro. Berbagai buku referensi mencatat lelaki ini  sebagai bagian intelektual Indonesia yang mencoba tawarkan langkah ideal agar negeri ini terhindar dari pertikaian dan konflik yang tidak berguna. Pusat yang notabene berada di Jakarta ditawarkan berbagai langkah untuk bisa menjadi sebuah negara yang benar-benar ada untuk rakyat yang konsisten berjalan dalam konsep keadilan seperti yang diatur dalam Pancasila.

Tetapi secara beruntun Indonesia dirasakannya kian membuat ia kecewa dengan berbagai kebijakan yang dalam bahasa di Tiro disebut terlalu jawasentris.

Pun, menurut Hasan Tiro ketika Hindia Belanda berubah menjadi Indonesia, Aceh tidak secara otomatis menjadi wilayah yang diserahkan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS adalah negara-negara federasi yang dibentuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus. J. Van Mook yaitu wilayah-wilayah yang telah takluk kepada Pemerintah Belanda, dan wilayah Aceh ketika itu tidak bisa dikuasai Belanda. RIS terbentuk hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yaitu Republik Indonesia, Bijeekomst Voor Federaal Overleg (BFO) dan Belanda yang disaksikan oleh United Nations Commission For Indonesia (UNCI). Aceh tidak pernah disebut dalam Undang-Undang Dasar Negara RIS (Republik Indonesia Serikat) 14 Desember 1949. Dalam pasal 2 Undang-undang Dasar RIS tidak menyebutkan Aceh sebagai bagian dari RIS ataupun negara bagian Indonesia. Menurut pasal 65 UUD RIS, suatu wilayah dianggap sebagai bagian daripada suatu negara mesti ada kontrak antara keduanya.

Aceh tidak pernah ada kontrak yang sah dengan negara bagian Indonesia. Berbeda dengan Kesultanan Yogjakarta dan Paku Alam. Pecahan kerajaan Jawa Mataram itu, pada tanggal 19 Agustus 1945 yang mengadakan sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ketika itu bernama Yogjakarta Kooti Kokootai. Di situlah diputuskan bahwa wilayah Yokjakarta dan Paku Alam sebagai bagian daripada Negara Indonesia. Bagaimanapun pada 27 Desember 1949, pihak Belanda yang tidak pernah menaklukan Aceh telah menandatangani “satu perjanjian” yaitu memberi hak kepada Indonesia untuk menguasai Aceh dan wilayah-wilayah lain di luar pulau Jawa.

Menurut pemikiran politik Teungku Hasan Tiro, perjanjian antara Belanda dan Jawa inilah yang menjadi alat pemindahan kekuasaan Belanda kepada RIS, dan yang menjadi sumber kekuasaan RIS terhadap Aceh. Menurut hukum internasional pemindahan kekuasaan itu tidak sah karena Belanda sebagai penjajah tidak mempunyai apa-apa hak legal atas tanah-tanah yang dirampas, maka Indonesia pun tidak punya hak legal atas tanah Aceh. Karena Aceh secara sejarah tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Hindia Belanda sehingga Aceh sampai kini masih berdaulat. Seperti dicatat Dr. Phil. H. Munawar A. Jalil dalam tulisannya: Kenapa Hasan Tiro Berontak.

Dalam catatan Munawar A. Jalil, alasan Hasan Tiro memilih angkat senjata juga disebabkan oleh 2 alasan lainnya, seperti yang diterangkannya berikut (ibid):

alasan yang didasarkan kepada konvensi PBB. Artikel 1, bagian 2 dan 55, Piagam Hak Bangsa-bangsa (Universal Declaration of The Rights of The People), pasal 5,6 dan 11, Piagam Hak-hak Asasi manusia, Piagam Hak Ekonomi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan (International Covenant of Economic, Social and Cultural Rights), dan menurut Piagam Hak Umum dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights), disebutkan “semua bangsa di dunia mempunyai hak menentukan nasib diri sendiri dan hak kemerdekaan” Menurut Hasan Tiro pula, Aceh beradasarkan resolusi PBB No: 1514 – XV yang dihasilkan pada 14 Desember 1960 mengenai: “Declaration of the Granting of Independence to Colonial Countries and Peoples”.

Ada tiga perkara penting dalam resolusi itu; Kedaulatan atas tanah jajahan tidak berada ditangan penjajah, melainkan berada di tangan bangsa asli dari jajahannya. Kedaulatan suatu negara tidak dapat dipindah / diserahkan oleh penjajah kepada penjajah yang lain. Semua kekuasaan wajib dikembalikan oleh penjajah kepada bangsa asli dari tanah jajahannya. Negara Aceh yang didekralasi oleh Teungku Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 adalah gagasannya sejak Januari 1965. Sejak itu beliau berpendapat bahwa negara Aceh adalah negara yang telah ada sejak dulu dengan keluasan wilayah yang sama, menjalankan dasar hukum yang sama, dengan sistem negara yang sama, yaitu Islam.

Itulah hakikat ideologi perjuangan GAM sejak digagas Hasan Tiro. Malah ketika dekade 50-an Hasan Tiro pernah menggegerkan Indonesia dengan satu ide dalam buku Demokrasi Untuk Indonesia, bahwa Pancasila sebagai asas negara Indonesia bukanlah falsafah, ia hanya sebagai lambang yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu ia berpendapat bahwa Islamlah yang dijadikan falsafah hidup dan ideologi negara karena ia hidup dan berakar dalam masyarakat Indonesia. Dengan mengakui Islam sebagai asas persatuan Indonesia, tidaklah berarti menafikan golongan rakyat Indonesia yang beragama non-muslim.

Idiologi Islam Hasan Tiro tersebut menjadi sisi penting di tengah mainstream penolakan asas Islam bagi mantan kombatan GAM yang mendeklarasikan partai politik lokal (Partai Aceh) beberapa waktu lalu sebagai transformasi perjuangan dari gerakan bersenjata ke perjuangan politik. Meski ada juga pihak yang tidak kaget atas sikap “anak buah” Hasan Tiro, karena dianggap pandangan politik Hasan Tiro itu adalah sikapnya pada masa awal pemberontakan guna mendapat dukungan tokoh-tokoh ulama, khususnya mantan pejuang DI/TII pimpinan Abu Beureu-eh.

Ketiga, alasan realitas sosial orang Aceh. Sejumlah pengamat mengatakan, pemberontakan-pemberontakan

yang terjadi di Aceh disebabkan oleh tidak adanya keadilan yang dirasakan oleh orang Aceh. Perkara inilah yang menjadi alasan utama Hasan Tiro untuk memerdekakan Aceh (berontak). Jadi bukan semata-mata aspek sejarah dan hukum. Bagi pihak yang kontra dengan Hasan Tiro menyebutkan bahwa keinginan Teungku Hasan Tiro untuk memproklamirkan kembali kemerdekaan Aceh sangat bersifat pribadi. Hasan Tiro disebut kecewa terhadap pemerintah Muzakir Walad (Gubernur Aceh) yang tidak memberikan kesempatan menjadi kontraktor pembangunan proyek tambang gas Arun kepadanya di Aceh pertengahan 1974 lalu. Tentu saja alasan ini dibantah oleh para petinggi GAM, dan menyebutnya sebagai propaganda pemerintah Indonesia untuk menjatuhkan reputasi Hasan Tiro dan GAM di mata rakyat Aceh dan masyarakat dunia.

Syahdan, pemberontakan GAM selama 30 tahun hakikatnya adalah manifestasi dari pemikiran Hasan Tiro. Bahwa perjuangan GAM untuk mewujudkan negara bersambung (successor state). Aceh sebagai satu Kerajaan yang pernah ada dalam catatan sejarah negara-negara di dunia. Namun apa nyana, lahirnya MoU Helsinki untuk damai di Aceh dan UUPA sebagai peraturan organik telah menguburkan semua doktrin sejarah dan hukum bahwa Aceh sebagai negara berdaulat. Sebab dalam alinia kedua mukaddimah MoU Helsinki, disebutkan bahwa Aceh adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan masyarakat Aceh adalah Warga Negara Republik Indonesia.

Mangkat.

Ide-ide perjuangannya telah diimplementasikan ke lapangan. Memakan korban menjadi konsekuensi dari perjuangan untuk sebuah hak yang dituntut.

Kontras Aceh yang getol memantau konflik Aceh per  1 bulan diberlakukannya darurat militer mencatat jumlah pengungsi telah mencapai 35.998 jiwa. Sedangkan menurut Dinas Sosial Aceh berjumlah 40.919 jiwa.  Selain itu adalah banyaknya sekolah yang terbakar/dirusak per 9 Juni 2003 di seluruh wilayah Aceh tercatat 497 sekolah, yang terdiri dari TK (4), SD (332), MI (70), SLTP (46), MTs (25), SMU (12), MA (7) dan SKB (1).

Dari sisi korban sipil, tercatat jumlah korban yang cukup signifikan. Misalnya, per tanggal 18 Juni disebutkan jumlah korban sipil yang tewas mencapai 108 jiwa, korban luka-luka 53 jiwa serta 58 orang dinyatakan hilang (ibid).

Hari ini, seperti dikutip TVOne, Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tengku Hasan Tiro tutup usia pukul 12.15 WIB, Kamis (3/6/2010) setelah di rawat secara intensif di ICCU RSU Zainoel Abidin, Banda Aceh. Dijelaskan juga, sebelumnya Hasan Tiro dirawat di RSU Zainoel Abidin karena menderita ganguan pada paru-paru, masalah pada darahnya, dan infeksi pada jantung. Keluarga saat ini sedang mengupayakan kepulangan putra tunggal Hasan Tiro yang kini bermukim di Amerika Serikat.

Wasiat jelang Kematian Tiro

Hasan Tiro pada pertamakali ia pulang, sempat menuangkan pikiran dan amanatnya setiba ia di Aceh dalam pidato yang dibacakan Malek Mahmud yang notabene sebagai tangan kanannya, di halaman Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Berikut saya kutip utuh isi pidato dimaksud:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kehadapan hadirin dan hadirat yang saya cintai.
Marilah kita bersama panjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan rahmat dan kurnia-Nya kepada kita sekalian dalam bentuk kebebasan dan kedamaian yang menyeluruh di persada tanah Aceh sejak dari tanggal 15 Agustus tahun 2005 selepas mengalami konflik bersenjata selama 30 tahun yang bermula pada tahun 1976.

Pada hari ini saya sangat berbahagia begitu juga para hadirin-hadirat sekalian. Allah telah melimpahkan nikmat kepada kita, sehingga pada hari yang paling bersejarah ini, Insya Alllah saya dalam keadaan sehat walafiat, dapat kembali menginjakkan kaki di bumi Aceh dan saya dapat bertemu muka langsung dengan saudara-saudara, di mana selama ini, telah memberi kesetiaan kepada saya di dalam perjuangan menuntut hak, keadilan dan martabat bagi Aceh.

Kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh di Aceh sekarang ini adalah merupakan nikmat yang telah diberikan Allah kepada Aceh. Belum pernah terjadi dalam sejarah Aceh selama berada dalam penjajahan dan pendudukan bangsa asing, rakyat mendapatkan kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh seperti saat sekarang ini.

Kesemuanya ini adalah merupakan hasil jerih payah perjuangan gigih yang telah diberikan oleh rakyat Aceh dengan jatuh korban puluhan ribu jiwa banyaknya, sementara gempa dan tsunami telah memakan korban sekitar ratusan ribu jiwa banyaknya. Saudara-saudara kita yang telah syahid telah meninggalkan ribuan anak yatim piyatu, saudara-saudara kita yang hilang harta dan cedera tubuh badannya juga tidak terhitung jumlahnya. Ini adalah menjadi tanggung-jawab kita semua untuk memberi bantuan kepada mareka yang akan kita penuhi melalui proses demokrasi dan berencana sebagaimana yang telah kita sepakati di dalam MoU Helsinki.

Kami ingatkan: konflik 30 tahun yang disusuli oleh gempa dan tsunami, mengakibatkan Aceh kehilangan segala-galanya, kita tidak sanggup kehilangan masa depan kita. Justru raihlah masa depan kita melalui proses yang telah ditentukan di dalam MoU Helsinki ini dengan cukup teliti dan berdisiplin tinggi.

Di dalam perang kita telah sangat banyak pengorbanan, akan tetapi, dalam kedamaian kita harus bersedia berkorban lebih banyak lagi. Memang, biaya perang sangat mahal akan tetapi biaya memelihara perdamain jauh lebih mahal. Peliharalah kedamaian ini untuk kesejahtraan kita semua.

Perundingan perdamaian yang panjang seru dan alot antara pihak GAM dan pihak Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki, Finlandia. Telah menghasilkan kesepakatan yang dinamakan Memorandum of Understanding ataupun yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki. Yang ditandatangani oleh pihak GAM dan RI pada tanggal 15 Agustus 2005 adalah merupakan dasar pijakan hukum bagi terciptanya kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak.

Adapun sebagian dari hal-hal penting yang terdapat di dalam kesepakatan bersama MoU Helsinki adalah:

Pertama: Mantan pejuang Aceh tidak ada lagi dipanggil dengan sebutan “sparatis”, karena telah mengikat diri dengan kesepakatan yang telah di tanda-tangani oleh pihak seperti termaktup di dalam MoU Helsinki. Kini rakyat Aceh sudah mulai merasakan hidup aman dan tenang serta tidak lagi merasa takut terhadap berbagai tindakan kekerasan seperti yang terjadi di masa konflik yang baru berakhir sekitar tiga tahun yang lalu.

Kedua: Aceh telah lama dilupakan dunia, akan tetapi dengan gempa dan tsunami serta adanya MoU Helsinki, Aceh telah menjadi perhatian dunia internasional untuk dapat dibantu secara langsung terhadap kepentingan rakyat Aceh dari segala kehancuran dan ketinggalan di semua bidang.

Ketiga: Aceh akan mendapatkan kebebasan dalam bentuk hak-hak sipil, politik dan mengenai hak-hak ekonomi, sosial dan budaya sebagaimana tercantum di dalam Konvenan Internasional Perserikatan Bangsa-bangsa, di mana proses tersebut, dijalankan melalui proses demokrasi, adil dan bermartabat. Sebagai imbalan, Pemerintah Pusat mempunyai hak-hak tersendiri yang telah diatur di dalam MoU Helsinki tersebut.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak Pimpinan Urusan Luar Negeri dan Keamanan Uni Eropa, Javier Solana di atas dukungan penuhnya terhadap kami dan juga kepada mantan Ketua Tim Misi Monitoring Aceh, Pieter Cornelis Feith beserta Staf dari negara-negara anggota Uni Eropa, ASEAN, Norwegia dan Swiss yang telah berhasil memantau dan menjalankan isi MoU Helsinki sehingga di Aceh terpelihara dan terjaga perdamaian yang menyeluruh ini.

Juga saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada mantan Presiden Martti Ahtisaari dari Finlandia,

mantan Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan, pemerintah Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Swedia, Norwegia dan lain lain yang telah berusaha keras membantu mencari jalan terbaik, guna menyelesaikan konflik Aceh secara damai.

Dalam kesempatan ini, teristimewa, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak Pemerintah Republik Indonesia yang tetap komitmen dengan isi-isi MoU Helsinki dan untuk ini, saya menghargai kebijaksanaan dan tekad baik yang “decisive” yang telah diambil oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Bapak Yusuf Kalla yang sejak dari awal lagi tahun 2000, telah merintis jalan penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Aceh, harus melalui perundingan bukan dengan cara kekerasan senjata.

Kepada rakyat Aceh, saya menyerukan untuk tetap memelihara dan menjaga perdamaian yang menyeluruh dan jangan berusaha untuk menghancurkan perdamaian ini. Kalau masih ada pihak-pihak yang menentang dan tidak menyetujui MoU Helsinki ini, maka di sini, saya menyerukan untuk kembali dan bersatu dengan rakyat Aceh yang sekarang sedang memelihara dan menikmati kedamaian dan kebebasan yang menyeluruh di bumi Aceh.

Perjuangan rakyat Aceh sekarang ini, adalah perjuangan ke arah sistem yang membawa aspirasi seluruh rakyat Aceh melalui perangkat politik dalam usaha memelihara perdamaian, keamanan dan kebebasan dengan cara yang adil, jujur, dan bermartabat bagi semuanya. Perlu diingat, bahwa perjuangan dengan melalui jalur politik dan demokrasi inilah yang didukung dan disokong sepenuhnya oleh dunia internasional serta saya yakin, juga didukung sepenuhnya oleh semua lapisan rakyat Indonesia yang cinta perdamaain, kestabilan dan kesejahteraan negara ini untuk masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, saya berpesan kepada seluruh rakyat Aceh untuk tetap menjaga kesatuan Aceh dan jangan sekali-kali terpancing pada usaha-usaha jahat dari beberapa kelompok supersif, dalam usaha mereka untuk menyabotase perdamaian, mengadu domba kita sesama kita dan memecah belah Aceh, yang kalau tidak kita tidak sedari, untuk membendunginya, akhirnya akan menimbulkan konflik berdarah untuk kesekian kalinya yang akan menghancur-leburkan dan merugikan kesemua pihak.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bersusah payah memfasilitasi kepulangan saya dan rombongan ke tanah air sebegitu baik.

Terima kasih yang tak terhingga kepada saudara-saudara yang saya kasihi sekalian, yang telah bersusah payah datang ke Banda Aceh dari seluruh Aceh untuk menyambut kepulangan saya ketanah pusaka ini secara meriah sekali, yang tentunya, tak dapat saya lupakan sepanjang hayat saya. Hanya Allah yang akan membalas segala kebaikan saudaraku sekalian. Amin, amin, amin ya Rabbal ’alamin.

Akhirnya mengingat kita masih berada di bulan syawal, bulan fitrah, saya ucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri tahun 1429 H. Mohon ma’af lahir dan batin.

Sekian dan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Sumber: Aceh Sumatera National Liberation Front)

Hasan Tiro di Mata Ureueng Aceh.

Pemberontakan GAM sejauh ini terhenti seiring perdamaian yang telah diikrarkan di Helsinki 2005 lalu. Tetapi, Hasan  Tiro bisa dipastikan masih melekat kuat di dada sebagian besar masyarakat Aceh. Alasannya bisa karena figur tersebut menjadi perlambang harga diri ureueng Aceh. Kehadiran dan ketegasannya menjadi penegas seperti apa karakter ureueng Aceh, tidak hanya di tingkatan Nasional tetapi juga sampai level Internasional. Terindikasi dari sekian banyak tokoh pemikir Internasional yang menaruh perhatian pada konsep dan perjalanan ide Hasan Tiro dan pemberontakan yang telah pernah dilakukannya di Aceh.

Hasan Tiro juga diingat oleh ureueng Aceh dikarenakan ia menjadi figur penting yang mengembalikan lagi nilai-nilai keacehan yang sempat tergerus sepanjang Orde Lama dan Orde Baru. Dua orde ‘penyambut’ setelah Belanda hengkang dari republik sehingga melahirkan sekian banyak kebijakan yang sering menepikan nilai-nilai yang menjadi ruh bagi etnik tersebut.

Ia dipandang sebagai pahlawan bagi masyarakat Aceh, dikarenakan perjuangannya yang diyakini ureueng Aceh sebagai sebuah perjuangan yang sudah mesti dilakukan berhadapan dengan kelaliman dan kerakusan yang pernah dipertontonkan penguasa.

Saya pribadi begitu teringat, pada Oktober 2008. Aceh merah. Penuh dengan warna tersebut saat menyambut pertama kali kepulangannya setelah sekian puluh tahun ia berada di Swedia dan berbagai negara lainnya, dengan bendera berlatar mirip bendera yang sering dipakai GAM. Arak-arakan masyarakat Aceh terjadi di mana-mana. Konvoi dilakukan masyarakat secara antusias. Simbol, betapa lelaki yang pernah menjadi ‘pewaris’ tokoh ulama sekaligus penggerak DI/ TII Aceh, Daud Beureueh mendapat tempat begitu dalam di hati ureueng Aceh.

Dia sudah pergi, apa yang sudah diajarkan, harga diri tidak kenal takut mati!

Posted in Budaya, GAMPOENG, POLITIK | Tagged: , , , , , , , | 1 Comment »

Aku, Sang Nabi

Posted by Zulfikar Akbar on 28 Mei 2010

Perkataan Musa di Thursina siapa pula yang sudah mendengar, tidak ada.

***

Lalu, hari ini sepuluh catatan yang pernah tergenggam di tangan Musa dibakar oleh sekian ribu serigala yang pernah meminta diri di syurga untuk terlahir sebagai manusia. Apinya membumbung, sebagian asap mengepul hingga ke ‘arasy. Berbau amis, busuk menusuk mengundang gerimis tangis. Setelah berganti Nabi di beribu purnama, angkara tidak lenyap seiring kematian waktu yang telah purba, angkara belum purna, meski pendatangan Nabi telah paripurna. Tanpa melihat diri, kita berbisik-bisik hanya dengan tetangga, “salah siapa?”

Beberapa hari lalu, seorang lelaki baru menyentuh sampul dari salah satu kitab suci. Pagi tadi sudah mengklaim diri sebagai Nabi. “Akulah sang nabi!” Teriaknya pongah. Untung saja hanya diucapkan di kamar rumahnya berbau kencing tikus yang tak pernah dibersihkannya. Suaranya tidak sampai terlalu mengusik telinga pejalan kaki yang sedang melempar senyum pada matahari. Meski lamat-lamat terdengar juga.

“Akulah yang layak disebut pewaris segala bijaksana sampai tahta syurga. Mereka, bukan siapa-siapa. Hanya aku, aku, akulah sang nabi.” Ia memuji diri.

Sebagai pejalan kaki, aku sendiri mencoba untuk tidak terlalu acuhkan hal itu. Berupaya untuk meredam marah meski muak dengan pemuja diri sebagai sang maha tahu. Pemuja diri yang cuma bisa bicara di depan batu. Pemuja diri yang gagal menerjemahkan malu.

Kusibukkan saja membuka beberapa lembar buku yang masih kuat untuk kubaca. Tentang Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh sampai ke Muhammad. Betapa membaca mereka kian membuat diri tersadar, belum kuhadapi satu ujian seperti mereka. Karena, kemunafikanku begitu haus hanya pada puji yang harusnya hanya tertuju pada ilahi. Aha, bagiku caci maki. Bila mereka enggan berikan, biar saja kucaci maki diri ini sampai pagi. Terkadang, oleh dan atas nama persahabatan, caci maki dipandang ketidaksetiakawanan. Terkadang, puji dipandang sebagai energi. Maka kemudian, yang kebetulan berhasil menuai puji mereka kian berenergi sedang yang selainnya lantas mati. Entah disebabkan tak ada lagi hati yang menampung energi yang tak kenal mati dari ilahi, akupun tak tahu pasti.

Pertarungan dalam jiwaku saat ini hanya, mengambil pedang untuk kutebaskan ke leher mereka yang berpura-pura tolol itu atau kucari sekerat tali untuk aku sendiri menggantung diri. Bukan untuk bunuh diri, tetapi agar jiwa pengecut di dalam diri yang selama ini ditopengi berbagai ilustrasi ikut mati. Nanti, aku minta pada Tuhan untuk hidupkan kembali. Berharap, nanti tidak ada lagi mulut-mulut berbau mengaku diri sebagai nabi. Tetapi ini sebenarnya adalah kegilaan, jika saja aku membulatkan hati untuk ini.

Saat masih ada lelaki yang masih mengaku diri sebagai nabi, aku berpikir untuk bermetafora saja, mungkin bisa membentuk sebuah metamorfosa pada jeda waktu yang aku sendiri sulit terangkannya. Karena untuk bicara kebenaran, sama sekali tidak perlu untuk menyebut diri sebagai Nabi. Sehingga puji tak dipandang indah seperti cengkrama senja dengan matahari, dan caci maki tidak lagi dipandang sebagai duri. Dan, hati masih sempat untuk menghitung dan menulis sekian angka anugerah dari Ilahi.

Gegerkalong, 29 Mei 2010

Sumber Gambar: Di sini

Posted in filsafat | Tagged: , , , , , , , , | 2 Comments »

Petunjuk Pejalan Kaki

Posted by Zulfikar Akbar on 27 Mei 2010

Banyak jalan lembab yang kita tapaki. Dan, kau pasti melihat, jika sempat, bekas tapak kakimu membekas persis seperti telapak kakimu bukan? Demikian juga telapak kakiku, terlihat begitu utuh di jalanan itu. Tidak kusayangkan bekasnya yang tidak terlalu besar, karena memang kakiku cuma kaki kecil saja, saudaraku.

Beberapa orang berjalan di belakang, bisa jadi telapak kaki yang mereka tempatkan di jalanan itu nantinya akan membuat bekas kita hilang begitu saja, atau mungkin minimal kehilangan bentuk utuhnya. Namun, menyadari kemungkinan demikian lalu memilih untuk berhenti dan menoleh ke sana terus menerus, hanya akan membuat perjalanan ini mestinya bisa ditempuh dalam waktu yang tidak terlalu panjang, menjadi menuntut waktu lebih lama saja sedang usia bisa saja terhenti sedangkan kita tidak punya waktu lagi sekedar untuk bicara.

Jadi, seperti apakah kebijaksanaan yang harus ditanamkan ke dalam jiwa? Apakah kita hanya melatih diri untuk bisa tinggalkan pengaruh pada sekian milyar manusia? Mungkin itu penting, tapi kukira kau akan mengiyakan bahwa itu bukan yang terpenting. Tetapi kita cari cara saja bagaimana setiap telapak kaki yang pernah ada itu tetap terlihat berharga, karena dengan demikian pula telapak kaki kita akan berharga kendati kita tidak maksudkan demikian. Pun, tidak penting bukan, menyibukkan pikiran dan niat hanya sekedar untuk merenungi cara untuk dikenang dan dilihat.

“Dengan dikenang, bukankah kita sudah menunjukkan bahwa kita pernah hidup?”

“Iya, benar sekali apa yang kau sebutkan. Tetapi itukah ketulusan?”

“Sampai kau gila juga, ketulusan itu tak pernah ada. Itu hanya ada dalam cerita dongeng pengantar tidur ketika kita masih kanak-kanak dulu. Buka matamu, ini bukan dunia dongeng.”

“Kau meyakini demikian?

“Iya, aku melihat cukup terang atas kenyataan demikian, dan ini takkan pernah dibantah siapa-siapa. Siapa saja yang pernah merasakan seperti apa bentuk luka, seperti apa rasa air mata, dan seperti apa wajah duka. Sedang orang sepertimu takkan pernah pahami itu!”

“Aku…hanya mencoba tidak terlalu teriakkan lukaku, dukaku, airmataku. Ketika terkadang keluhku terdengar ke luar dinding papan gubukku. Keluhan itu pasti diinginkan Tuhan, tetapi aku tidak niatkan demikian. Dan, satu lagi, aku tidak perlu haturkan abjad per abjad yang telah membentuk puisi luka, duka dan airmata dalam hidupku. Tetapi, aku juga masih tetap ingin katakan, masih ada sisa-sisa menusia pemilik ketulusan. Biasanya mereka tidak pernah teriakkan dirinya sebagai manusia tulus. Terkadang mereka hanya memiliki uang recehan jatah untuk makan siang, tetapi kemudian diangsurkan pada kertas sisa pembungkus semen yang digelar di emperan dan trotoar kota tempat mereka berada. Mereka ada dan mereka muncul ketika Tuhan mengarahkan telunjuknya untuk berjalan pada tempat yang harus mereka singgahi untuk tunjukkan putih tangannya.”

“Ah, kau terlalu jauh bermimpi, tolol!”

“Kecerdasan itu bukan pada pengetahuan. Karena pengetahuan saja masih merupakan titik pergulatan antara jiwa kemanusiaan dan kebinatangan tanpa sebuah kejelasan sudah di titik mana kita berada. Pengetahuan sesungguhnya adalah tidak terlalu banyak berkata-kata, tetapi kau beri apa saja yang kau bisa. Karena cinta tidak pernah mengenal rugi dan laba

***

Tidak perlu menggali lautan, cukup parit-parit kecil saja untuk mengairi tanah kering yang membuat bunga selama ini tidak tumbuh baik, sedang aroma bangkai demikian menyengat, disebabkan tak satupun bunga yang tumbuh mekar. Memang, kita jarang sekali perhitungkan parit-parit kecil hanya karena di sana kita tidak bisa berenang.

Posted in INSPIRASIONAL | Tagged: , , | No Comments »

Keburukan (Berbahasa) Ureueng Aceh

Posted by Zulfikar Akbar on 23 Mei 2010

Aceh kasar, tidak punya adab dan cenderung primitif plus udik. Sehingga dalam berbahasa pun, mereka tidak enak didengar.

Yap, itu adalah selentingan yang terdengar, kebetulan dibawa angin dan nyasar ke telinga saya sebagai salah seorang Ureung Aceh. Tercenung juga ketika mendengar ‘berita’ serupa ini. Mencoba tidak menyalahkan terlebih dahulu dan lebih memilih melihat sejernih mungkin. Tapi tidak tahu kenapa, saya lebih tertarik membedakan Aceh itu dengan Ureung Aceh Pantee [Aceh pesisir] dengan Ureung Aceh Gunoeng [Aceh dataran tinggi]. Mengulik kembali, sejauh mana perbedaan kedua kutub masyarakat bumoe Aceh tersebut? Cara berbahasa, jelas. Sikap, juga sangat jelas. Prinsip, lebih jelas lagi.

Cara Berbahasa

Hal kontras yang membedakan masyarakat Aceh satu dengan lainnya itu adalah, haba ureung na sikula [baca: pembicaraan orang-orang berpendidikan] dengan ureung hana sikula [orang tidak berpendidikan. Untuk kalangan yang pertama, ketika ia masih berada di tempatnya, taruhlah yang kita sebut pesisir yang memang cenderung lebih keras. Ia cenderung terpengaruh bertutur seperti lingkungannya. Tetapi terkadang saat berada di luar ia akan mencoba menyesuaikan. Namun, perubahan style atawa gaya berbahasa itu tidak bisa diubah. Kalau misal ada yang berubah saat sekembali perantauan--sebagai misal--, maka kecenderungan di sekeliling akan menggunjingnya. Dalam hal menggunjing ini, tidak hanya kaum ibu, yang sesama lelaki juga bisa saja bergunjing. Nah, bahasa yang berubah ketika pulang kampung, ia bisa saja disindir [Aceh: poh sampeng] dengan kalimat seperti: baroe dua uroe jak u luwa, ek ek ka kreueh [terj: baru dua hari ke luar daerah, tahi pun ikut keras].

Khusus di pesisir yang saya sebut tadi. Kalimat yang acap terdengar kalau sedang marah: Bret mak kah (kemaluan ibumu), pap ma keudeh (setubuhi ibumu kesana), pap leumoe (setubuhi sapi), aneuek tet (maaf, ini untuk menyebut clitoris), aneuek bajeueng (anak haram), rameujadah (haram jadah), dan beberapa lainnya. Biasanya, kalimat seperti ini, bagi yang berpendidikan akan menghindar pergunakan kata-kata tersebut, bisa jadi karena pertimbangan harga diri atau alasan lainnya. Meskipun di lapangan tidak jarang juga saat sudah kembali menyatu dengan masyarakatnya kata-kata demikian dipergunakan kembali.

Khusus di daerah saya, Pantai Barat Aceh, spesifik Gampoeng Rameunee (sebutan untuk Nagan Raya). Ada satu hal yang sering diperhatikan sekali ketika ada anggota masyarakat yang baru pulang dari perantauan. Yap, cara penggunaan huruf “R”, misal untuk menyebut ree (malas), rhap (hampir), rumoeh (rumah). Misal saja ada yang mempergunakan R seperti lazimnya berbahasa Indonesia untuk menyebut ramai, ramah, ribut dengan R yang kental, maka siap-siap orang tersebut mendapat cap manoek pungoe keue ikue (ayam gila ekor/ ingin ekor panjang). Karena khusus di Nagan sampai ke Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, R sering dilafalkan seperti Orang Perancis berucap R, dengan pelafalan tersamarkan. Kadang juga bisa terdengar seperti G. Hanya saja, sedikit lebih jauh, khusus di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya banyak masyarakat yang menggantikan pengucapan L dalam bahasa Aceh menjadi “R/gh.” Misalnya untuk menyebut blet (kaleng, bisa terucap bret), capli (cabe bisa terucap capri).

Sikap Ureung Aceh

Dari sejak masa penjajahan Belanda, bisa dirujuk pada berbagai literatur tentang Aceh, Ureung Aceh cenderung kreueh ulee (keras kepala/ biasanya yang berhubungan dengan prinsip hidup), cuheng (gemar menunjukkan kekuatan otot–maka ilmu bela diri cenderung sangat digemari di sana), lisek (cerdik/ sejarah Teuku Umar mengibuli Belanda sebagai contoh).

Pun, pengaruh adat dalam keseharian cukup kuat. Misal, ada khanuri peunuwoe (pemberian kue-kue dari pihak pengantin lelaki untuk pengantin perempuan, atau sebaliknya). Di sini, biasanya pihak keluarga akan dipanggil untuk hadir ke rumah pengantin untuk bicarakan tentang peunulang (upacara pengembalian yang setimpal untuk pihak pemberi/ mirip membayar). Di sini yang berhadir biasanya akan dibagi kue tadi untuk dibawa pulang. Secara cuma-cuma? Tidak.

Tetapi mereka yang hadir dan mendapat bagian bingkisan kue tadi harus ‘membayar’ dengan harga yang seringkali bisa lebih mahal. Katakanlah, kalau membeli kue-kue tersebut di toko-toko yang menjual kue tradisional semisal karah, kueh bungoeng, kueh bawang dan kue kering sejenis hanya menghabiskan 10 ribu dalam satu kantong kecil itu. Tapi untuk pemberian dalam acara duek pakat (rapat) keluarga, maka ‘bayaran’ tadi itu bisa sampai 50 ribu sampai 200 ribu. Untuk yang terakhir ini, saya sering menggerutu (saat masih awal remaja dulu): aleh paki-paki awak kee, lheueh dijoek nyan dilakee bayeue (entah apa-apa, sudah diberikan malah diminta bayar lagi).

Prinsip.

Terkadang, untuk bisa hidup, dari kecil anak-anak Aceh kerap diperdengarkan kalimat dalam mencapai tujuan hidup: uleue bek matee, ranteng bek patah (ularnya mati, tapi ranting pemukul ular jangan patah). Kuah beue leumak, ue bek beukah (Terj: Gulai harus bersantan, kelapa jangan sampai harus dikupas. Ledekan untuk orang yang ingin keuntungan namun tidak bisa menerima resiko). Biasanya memang kontras yang diperdengarkan, dalam hal ini kembali pada tingkat cara bagaimana menerima petuah-petuah yang sebagian memang menjadi prinsip.

Seperti, bek toeh ek lam kanoet bue (Terj: jangan buang air besar dalam periuk nasi). Maknanya, jangan merugikan orang. Jangan mempermalukan orang. Maka biasanya orang Aceh kalau sudah dipermalukan bisa berubah beringas meskipun dalam pandangan jernih bisa saja disebut, untuk apa merasa dipermalukan jika hal yang disebut itu tidak ada pada diri yang dipermalukan itu. Tapi seringkali memang soal harga diri bisa menjadi permasalahan hidup dan mati.

————

Sekedar catatan sepintas tentang sisi lain Ureueng Aceh. Mungkin bisa menjadi inspirasi bagi yang tertarik mendalami permasalahan sosiologi suku-suku di Indonesia. Tulisan ini merupakan observasi pribadi penulis.

Posted in GAMPOENG | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments »

Taufik Ismail: Mengubah Indonesia dengan Sastra.

Posted by Zulfikar Akbar on 22 Mei 2010

“Mereka berjuang, mereka mengabdi, tetapi mereka tidak mati dalam gelimang harta.”

Demikian petikan yang sempat saya tangkap saat tadi siang berhadir dalam acara bedah buku: Bacalah, dan seminar tentang membaca. Petikan yang diucapkan oleh seorang punggawa sastra negeri ini, Taufik Ismail di Gedung Serba Guna Institut Teknologi Bandung. Dan itu dilakukan ketika penutupan dengan pembacaan puisi beliau usai sesi pemaparan makalahnya yang diberi judul: Mengejar Ketertinggalan 60 Tahun Lamanya, Banyak Membaca Buku, Membaca Buku, Membaca Buku dan Terus Berlatih Menulis Berlatih Menulis Berlatih Menulis. Sebuah judul makalah yang di mata saya terlihat bukan panjang dan tidak taat asas penulisan judul, tetapi justru saya melihatnya sebagai afirmasi yang bisa dipastikan akan sangat memberi pengaruh terhadap alam bawah sadar yang membacanya.

Paparan.

Dalam paparan sekitar 60 menit yang beliau lakukan, saya mengamati detail dari cara duduk beliau yang saya akui sangat rileks, tenang. Gesture beliau yang begitu bersahaja. Sampai detail cara beliau mengucapkan kata per kata. Semua menarik perhatian saya dan bahkan semua peserta yang umumnya memang mahasiswa di institusi pendidikan tersebut.

Saya pribadi antusias mengikuti detail beliau karena memang selama ini hanya mendengar namanya, membaca puisinya dan wawancara media dengan lelaki sepuh ini. Di samping, pikiran saya berkali-kali teryakinkan ulang, setenar apapun seseorang dan sebesar apapun seorang manusia, ia tetap sebagai manusia. Yang membedakan hanya dedikasi dan bakti atas sesuatu jalan yang diambil untuk mengubah masyarakatnya. Lelaki itu mengambil sastra sebagai pintu ia pancarkan nilai-nilai humanisme dan moral, plus juga nilai reliji.

Dan, saya menyebut semua yang ada padanya tidak berbeda dengan kita semua karena cerita beliau tentang masa kecilnya dan sikap beliau saat menerima berbagai berkah. Sebut saja, saat beliau pertama sekali mendapat kabar tulisannya dimuat di salah satu media, keesokan harinya majalah tersebut dibawa ke sekolah. Tidak dimasukkan dalam tas, namun hanya beliau jinjing diluar tas untuk tunjukkan majalah tersebut dengan keyakinan, teman-temannya pasti akan menanyakannya. Benar saja, tiba disekolah

“Tumben sampeyan bawa majalah…?”

“Iya dong, ini kan majalah yang ada tulisan saya.” Ujarnya dengan bangga dan hidung kembang kempis. Kebanggaan yang sangat lumrah, apalagi yang duduk di majalah tersebut adalah Paus Sastra Indonesia, HB Jassin–majalah itu sendiri, Mimbar Indonesia.

Kemudian beliau juga dengan begitu apik menceritakan berbagai kekonyolan di masa kecil. Seperti misal, ketika beliau menghadapi sebuah novel berbahasa Inggris,

“saya membacanya sampai habis, tuntas dan benar-benar habis dari halaman awal sampai halaman akhir. Saat Bapak saya menanyakan, sudah habis kamu baca? Iya, sudah. Apa yang sudah kamu ketahui dari buku itu? Tidak ada apa-apa.” Cerita beliau yang disambut dengan Gerrrrrr dari peserta seminar. Saya sendiri tidak bisa menahan geli dengan gaya beliau bercerita tentang nostalgia masa kecilnya.

Selanjutnya beliau juga menuturkan tentang keresahan beliau terkait kurikulum pelajaran Bahasa di Indonesia, sejauh ini penekanan yang sangat banyak hanya pada tata bahasa dan tata bahasa saja, sedangkan ruang untuk mengarang sangat kecil. Sedangkan ketika dulu Indonesia masih sebagai Hindia Belanda, mengarang menjadi sebuah kewajiban yang begitu ditekankan. Menjumlahkan dari kelas satu sampai kelas tiga di sekolah yang setara dengan SMA sekarang, dulu seorang siswa bisa memiliki 108 karangan. Sedang sekarang 3 tahun di SMA hanya diharuskan mengarang sekitar 3-15 karangan saja (Sumber: Makalah Taufik Ismail).

Selain itu, dulu ada kewajiban untuk membaca 25 buku, sedang sekarang tidak diwajibkan satu bukupun. Memang, beliau akui, kebijakan seperti yang pernah ada dalam pendidikan untuk anak-anak pelajar setingkat SMA dulu, tidak serta merta mencetak generasi sastrawan. Namun, setidaknya kemampuan tersebut akan sangat membantu dalam jenis profesi apapun.Terkait itu, beliau mengutip sejarah seorang Abege dari Padang

  • Pada tahun 1919 ia masuk sekolah SMA dagang menengah, Prins Hendrik School di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya ketagihan membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkaj ke samping, lalu menjadi ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta.
  • Sedang seorang siswa sebaya dia, di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka ilmu politik, sosial dan nasionalisme. Insinyur teknik ini melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno.

Pesan Taufik Ismail

“Saya kebetulan memiliki 2 orangtua yang sangat gemar membaca, selanjutnya saya secara perlahan menjadi seorang anak yang juga suka membaca.” Dari sini beliau sangat menekankan untuk mengtransfer kebiasaan positif membaca dengan melakukan langsung di depan anak, dengan begitu kelak mereka akan tertarik sendiri.

Gambaran yang beliau sampaikan ini mengingatkan saya pada berbagai kebiasaan yang menyatu dalam keseharian kita sendiri, sesuatu yang sering dilihat cenderung dipandang sebagai sesuatu yang tidak asing, saat tidak lagi terasa asing maka akan dengan mudah untuk juga kemudian ditiru, baik yang positif maupun yang negatif

Setelah panjang lebar mengurai sudut pandang beliau berhubungan dengan tradisi membaca dan menulis, sampai pada kesimpulan yang beliau ucapkan dengan tegas, Kita generasi nol buku, generasi yang rabun membaca dan pincang menulis. Jika hari ini ada yang banyak membaca dan mampu menulis, itu bisa dipastikan karena kemauan dan ikhtiar sendiri di luar ruang sekolah (bukan dibimbing oleh sebuah sistem pendidikan nasional) atau karena keberuntungan bisa belajar ke luar negeri.

——

Note:

Satu hal yang mengharukan saya, beliau menyatakan bersedia untuk berikan endorsement untuk novel saya: Aku Laila, bukan Cleopatra

Sumber gambar: Di sini dan ini

Posted in DUNIA MENULIS | Tagged: , , , , , , | No Comments »